Tidak ada yang remeh dalam urusan
kebaikan walau sekecil apapun. Allah Maha Adil dan tidak mendzalimi
hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan kebaikan sekecil apapun pasti dia
akan melihat balasan kebaikannya. Sebagaimana kalau ia berbuat dosa
selembut apapun niscaya dia melihat pembalasannya. Nabi Saw bersabda:
يِا نِسَاءَ الْـمُسْلِمَاتِ، لاَ تَحْقِرْنَ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ
"Wahai wanita muslimah, janganlah seorang tetangga menganggap
remeh (pemberian) tetangganya, walaupun sekadar kaki kambing."
(HR.Bukhari) Hadits ini adalah larangan meremehkan sedekah
pemberian. Karena yang dinilai adalah keikhlasan dan kepedulian terhadap
tetangganya. Juga, karena memberi sesuatu yang banyak tidak bisa
dimampu setiap saat.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Nabi Saw (yang artinya):
“Tatkala ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur yang hampir
mati karena haus, tiba-tiba ada seorang wanita pezina dari para pezina
Bani Israil. Lalu ia melepas khuf (sepatu dari kulit yang menutupi mata
kaki) miliknya, kemudian ia mengambil air dengannya dan memberi minum
anjing tersebut. Maka ia diampuni (oleh Allah Swt) karenanya.”
(Riyadhush Shalihin, Bab ke-13, hadits no. 126)Lihatlah
wahai saudaraku, karena memberi minum seekor binatang yang kehausan, dia
mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Maka, orang yang memberi minum
manusia, baik dengan cara menggali sumur atau mengalirkan parit dan
semisalnya, tentunya sangat besar pahalanya di sisi Allah Swt.
Sebagaimana sabda Nabi n (yang artinya): “Tujuh (perkara) yang pahalanya
mengalir bagi hamba sedangkan dia berada di kuburannya setelah matinya:
(yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, atau mengalirkan sungai, atau
menggali sumur, atau menanam pohon kurma, atau membangun masjid atau
mewariskan (meninggalkan) mushaf (Al-Qur`an) atau meninggalkan anak yang
memintakan ampunan baginya setelah matinya.” (HR. Al-Bazzar dan
dihasankan oleh Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’, no. 3602)
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى
ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنْحِيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ
لاَ يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
"Ada seorang lelaki melewati suatu dahan pohon di tengah jalan,
lalu dia mengatakan: 'Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini dari
kaum muslimin sehingga tidak mengganggu mereka.' Maka orang tersebut
dimasukkan (oleh Allah Swt) ke dalam jannah (surga)." (HR. Muslim)
Coba renungkan hadits tadi dengan baik. Bagaimana orang tersebut
dimasukkan ke dalam jannah karena melakukan cabang keimanan yang
terendah, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Bagaimana kiranya
orang yang melakukan cabang iman yang lebih tinggi dari itu?
Inti dari ini semua, lapangan untuk kita beramal shalih sangatlah
banyak. Jika kita tidak mampu mengamalkan suatu kebaikan, maka ada pintu
lain yang bisa kita masuki. Juga, terkadang seseorang menganggap suatu
amalan itu remeh padahal di sisi Allah Swt itu besar. Kemudian yang
terpenting pula dari itu, bahwa pahala akhirat itu tidak bisa
dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Inilah Nabi Saw bersabda dalam
haditsnya:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
"Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya." (HR.Muslim)
Shalat sunnah sebelum shalat subuh lebih baik daripada dunia dan
seisinya, karena apa yang ditujukan kepada Allah Swt akan kekal.
Sedangkan dunia, seberapapun seorang mendapatkannya maka ia akan lenyap.
Harta Kita yang Sesungguhnya ??
Umumnya, kita menganggap bahwa harta yang disimpan itulah harta kita
yang sesungguhnya. Padahal sebenarnya harta kita adalah yang telah kita
suguhkan untuk kebaikan. Nabi Saw bersabda:
أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهُ أَحَبُّ
إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا مِنَّا أَحَدٌ
إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ. قَالَ: فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ
وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ
"Siapa di antara kalian yang harta ahli warisnya lebih dia cintai
dari hartanya (sendiri)?" Mereka (sahabat) menjawab: "Wahai Rasulullah,
tidak ada dari kita seorangpun kecuali hartanya lebih ia cintai." Nabi
bersabda: "Sesungguhnya hartanya adalah yang ia telah suguhkan,
sedangkan harta ahli warisnya adalah yang dia akhirkan." (HR.Bukhari)
Dalam hadits ini ada anjuran untuk menyuguhkan apa yang mungkin bisa
disuguhkan dari harta pada sisi-sisi taqarrub kepada Allah k dan
kebaikan. Supaya ia nantinya bisa mengambil manfaat darinya di akhirat.
Karena segala sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang, maka akan
menjadi hak milik ahli warisnya. Jika nantinya ahli waris menggunakan
harta itu dalam ketaatan kepada Allah Swt, maka hanya ahli warisnya yang
dapat pahala dari itu. Sedangkan yang mewariskannya hanya dia yang
lelah mengumpulkannya...." (Fathul Bari, 11/260)
'Aisyah RA pernah menuturkan bahwa dahulu sahabat menyembelih
kambing, maka Nabi Saw bertanya: "Apa yang masih tersisa dari kambing
itu?" 'Aisyah berkata: "Tidak tersisa darinya kecuali tulang bahunya."
Nabi n bersabda: "Semuanya tersisa, kecuali tulang bahunya."
(HR.Tirmidzi)
Maksudnya, apa yang kamu sedekahkan maka itu sebenarnya yang kekal di
sisi Allah Saw dan yang belum disedekahkan maka itu tidak kekal di
sisi-Nya. Lekaslah mengkonversi harta dalam amal kebaikan karena itu
tabungan kita yang sebenarnya.
Wallahu a'lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar